Planet Badminton

Hidupkan Diri Dengan Prestasi

Usia Emas Bisa Terlambat

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 10, 2008

Pada sebuah Talk show tentang kebangkitan bulutangkis Indonesia, pelatih Pelatnas Hendrawan mengingatkan publik untuk tidak mudah memvonis seorang atlet dianggap mentok prestasi. Hal ini berkaitan dengan prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar. Hendrawan menyatakan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda.
Kematangan seorang pemain yang lebih dikenal dengan usia emas dalam bulutangkis lazimnya sudah terlihat dari umur 19 sampai 23 tahun. Sebagai contoh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan sudah mampu meraih gelar turnamen sekelas Indonesia Open di umur 21 tahun dilanjutkan dengan juara dunia dua tahun berikutnya dan berlanjut ke emas Olimpiade. Seorang yang sangat berbakat seperti Taufik Hidayat sudah mampu merebut gelar Grand Prix pertama-nya diusia 17 tahun dan menjuarai Indonesia Open 1999 saat menginjak usia 18 tahun. Demikian halnya dengan Susi Susanti yang kelahiran 11 Februari 1971 berhasil meraih gelar dilevel senior pada tahun 1989 dengan menjuarai invitasi Piala Dunia dan Indonesia Open. Bahkan Mia Audina sudah memulai masa emasnya diumur 15 tahun ketika menjadi tulang punggung tim Uber Cup Indonesia.
Kebanyakan pemain besar dunia sudah mulai meraih prestasi tinggi sebelum usia 23 tahun. Fenomena tersebut menjadikan anggapan umum bahwa tidak berprestasi di usia-usia tersebut maka dikatakan pemain tersebut sudah mentok alias tidak mungkin berprestasi lebih tinggi lagi. Bahkan banyak pemain pelatnas harus terbuang atau memilih jalan lain karena mitos tersebut.
Mitos yang tercipta karena pengalaman masa lalu tidak bisa disalahkan. Tetapi tidak bisa menganggap semua pemain tidak berpotensi karena usia-nya tidak muda lagi. Hendrawan semasa menjadi pemain mengalami masa-masa sulit dalam mencetak prestasi Internasional. Hendrawan meraih gelar Grand Prix diatas bintang Empat pertama-nya pada usia 25 tahun saat Thailand Open 1997. Sedangkan gelar juara dunia diraih pada usia 29 tahun. “Kalau kondisi seperti pelatnas sekarang belum bisa berprestasi sebelum umur 25 pasti sudah dikeluarkan”, Ungkap Hendrawan. Pada kesempatan yang sama, Joko Suprianto mengungkapkan hal serupa.  Untungnya saat itu, Joko Suprianto bisa bertahan walaupun prestasinya telat dibandingkan rekan-rekannya seangkatannya seperti Ardi Wiranata, Alan Budi Kusuma dan Hermawan Susanto. Apalagi dibandingkan dengan rekannya yang lebih muda Hariyanto Arbi. Seandainya Joko Supriyanto menyerah saat ketika itu maka kita tidak mungkin mengenalnya sebagai sang juara dunia. Dengan tekad yang kuat pemain-pemain seperti Joko dan Hendrawan bisa berprestasi maksimal walaupun diusia terlambat untuk memulai prestasi.
Kasus lain yang menguatkan bahwa usia bukanlah rintangan untuk menapaki level atas prestasi ditunjukkan oleh pemain putri Denmark Tine Rasmussen. Pemain kelahiran 21 Juli 1979 itu menghancurkan tembok putri-putri China dengan meraih gelar juara Japan Superseries 2007. Sebelumnya nama Tine kurang dikenal karena hanya mampu juara diturnamen-turnamen kecil. Hebatnya kemunculan Tine bukanlah prestasi sesaat. Tahun ini saja, diusia yang menjelang 30 tahun Tine sudah mengumpulkan tiga gelar juara turnamen Superseries termasuk gelar bergengsi All England. Prestasi diusia senja juga ditunjukkan Zhang Ning yang meraih emas Olimpiade bulan lalu. Namun Zhang tidak bisa dikategorikan sebagai pemain terlambat karena diusia muda sudah menunjukkan kehebatannya.
Belajar dari kasus Hendrawan, Joko maupun Tine Rasmussen ternyata ada pemain-pemain tertentu mencapai kematangannya diusia yang tidak muda lagi. Seharusnya ini menjadi pendorong bagi pemain-pemain bulutangkis agar tidak patah semangat meraih prestasi. Pemain seperti Sony (24 tahun) dan Simon (23 tahun) seharusnya terus berusaha untuk mencapai prestasi terbaik. Usia bukan segalanya sebagai penentu prestasi melainkan kerja keras dan tekad kuat seperti yang pernah ditunjukkan Hendrawan dan Tine Rasmussen.

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

GPG Taipei Open : Tuan Rumah Dominasi Babak Kualifikasi

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 10, 2008

Hari pertama Chinese Taepei Open Grand Prix Gold 2008
memainkan pertandingan kualifikasi pada tiga nomor. Pada
nomor tunggal putri, tuan rumah merebut tiga dari empat
tempat kebabak utama melalui Pei Hsin Chiang, Hsiao-Jo Liu
dan Hsiao Huang Chen. Hsiao Huan Chen membuat kejutan
dengan menundukkan unggulan kedua kualifikasi Nicole
Grether (GER) 21-19 21-9. Satu tempat lagi dipastikan buat
pemain Jepang, Masayo Nojirino yang mengalahkan pemain
tuan rumah lainnya Chia Ling Chang 16-21 21-11 21-9

Kebalikan dari nomor tunggal putri maka pada ganda putra
justru Jepang menguasai tiga dari empat tempat ke babak
utama. Mereka adalah pasangan Hiroyuki Saeki / Yuta
Yamasaski, Takeshi Kamura / Takuma Ueda dan Hiroyuki Endo
/ Kazushi Yamada. Sedangkan tuan rumah meloloskan Jen Yo
Cheng / Shih Chung Huang yang menundukkan pasangan
Hongkong Chi Yin Lau / Lok Kei Lo 21-13 21-15 di final
kualifikasi

Satu nomor kualifikasi lagi mempertandingkan ganda
campuran. Kembali tuan rumah meloloskan pasangan terbanyak
setelah dua pasangannya menang di final. Kedua pasangan
tersebut adalah Chung Lin Tseng / Yun Ju Chang dan Tien
Chen Chou / Kai Hsin Chiang. Ikut lolos ke babak utama
pasangan Jepang Takatoshi Kurose / Yasuyo Imabeppu dan
pasangan Malaysia Hee Chun Mak / Kah Mun Vivian Hoo.

Pada pertandingan kemarin tidak satupun pemain Indonesia
yang tampil dibabak kualifikasi. Semua pemain Indonesia
langsung bermain pada babak utama yang dimulai hari ini
(10/09)

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Kebangkitan Bulutangkis

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 2, 2008

(Bulutangkis.com) – Universitas Taruma Negara Jakarta pada jumat pagi tanggal 22 Agustus 2008 menyelenggarakan Talk Show yang berjudul Kebangkitan Bulutangkis Indonesia. Talk show tersebut dihadiri oleh mantan atlet yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), para atlet yunior, mahasiswa, dosen dan wartawan. Acara ini dipandu oleh kandidat Magister Psikologi Universitas Tarumanegara yang sekaligus mantan atlet bulutangkis, Lilik Sudarwati. Pembicara dalam Talk Show ini adalah Christian Hadinata, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Joko Suprianto, Hendrawan, Chandra Wijaya, Alan Budi Kusuma dan Psikolog, Dr. Monti Setya Darma.

Acara dibuka oleh Prof. Singgih Gunarsah yang kemudian dilanjutkan dengan acar inti. Christian Hadinata menyoroti ketergantungan atlet-atlet sekarang kepada pelatih. Menurut Koh Christ, sebaiknya atlet harus juga berlatih memecahkan masalah di lapangan. Apalagi kesempatan bertukar pikiran dengan pelatih dalam satu kesempatan di pertandingan hanya dua menit.

Sejalan dengan Koh Chris, Ivana Lie juga menekankan pentingnya motivasi internal dari dalam diri seorang atlet. Memang motivasi eksternal seperti bonus dapat membantu tetapi bukan menjadi faktor utama kesuksesan seorang atlet. Seorang atlet harus menumbuhkan dalam dirinya bahwa latihan dan pertandingan itu menjadi suatu kesenangan. Kemajuan jaman yang serba mudah ditengarai Ivana Lie sebagai pemicu kurangnya mental baja seorang pemain. Jamannya Ivana Lie, untuk berkomunikasi dengan keluarga lebih sulit tetapi sekarang tinggal angkat mobile phone. Demikian juga dengan transportasi, dulu atlet kemana-mana harus naik bis umum bandingkan dengan sekarang sudah pakai mobil atau bis khusus.

Mengenai prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar, Hendrawan mengingatkan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda. Sebagai contoh Hendrawan maupun Joko Suprianto baru matang diusia 25 tahun. Disini diperlukan kejelian pelatih untuk mengukur kemampuan seorang pemain.

Joko Suprianto dan Rosiana Tendian membahas masalah bibit atlet di Indonesia. Menurut Mbak Rosi yang rajin mengadakan turnamen ini mengatakan membludaknya peserta turnamen usia dini sampai angka ribuan sebagai modal yang bagus. Indonesia tidak kekurangan bibit tetapi ada masalah dengan pembinaan bibit-bibit tersebut. Sedangkan Joko mengkritisi kebijakan pembinaan Pelatnas sekarang. Sistem yang dulu dipakai dimana pemain terbaik Indonesia sudah dibina di Pelatnas sejak usia 15 tahun yang hasilnya Indonesia berlimpah pemain bagus seperti Susi, Ardi dan rekan seangkatannya. Hal lain yang dicermati Joko adalah kesenjangan prestasi Jawa dan luar Jawa. Ketika pada usia dibawah 14 tahun level permainan pemain Jawa dan luar Jawa sebanding. Tetapi setelah itu perbandingan menjadi jauh. Biasanya bagi yang orang tuanya mampu, atlet tersebut dipindah ke Jawa, sedangkan talenta yang kurang mampu akan berhenti sampai pada level tersebut. Solusinya diperlukan
desentralisasi pembinaan.

Alan dan Chandra fokus masalah ke mental atlet. Kelemahan atlet kita umumnya takut pada psikolog. Ada anggapan psiokolog itu buat orang-orang yang bermasalah. Saat jadi pemain, Alan selalu menghindar dari Prof. Singgih. Tetapi dengan kesabaran Prof. Singgih, Alan akhirnya mau terbuka. Problem utama Alan saat itu karena tidak terbiasa mengambil keputusan karena diperintahkan langsung orang tua nya. Setelah sering konsultasi, Alan berhasil mendobrak hal tersebut sehingga lebih matang di lapangan.

Dari sisi psikolog, Dr Monthi menekankan perlunya ketegaran mental dari pemain. Ketegaran mental ini dilakukan dengan suatu proses latihan sejak dini. Pemain tidak hanya dilatih fisik dan teknik tapi juga mental. Tidak cukup ketegaran mental ini dilatih setelah pemain tersebut dewasa. Salah satu bentuknya adalah disiplin

Acara yang menarik ini akhirnya ditutup dengan acara ulang tahun ke 74 Prof. Singgih. Professor kelahiran Banyumas 21 Agustus 1934 itu mempunyai andil yang cukup besar bagi bulutangkis Indonesia khususnya saat Indonesia menyandingkan Piala Thomas dan Uber tahun 1994.

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Indonesia Hanya Kebagian Satu Gelar

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juli 4, 2008

Indonesia hanya kebagian satu gelar juara pada kejuaraan bulutangkis Pelajar Asean yang berlangsung di Manila Philipina 26-28 Juni 2008. Satu-satunya gelar juara tersebut dipersembahkan pasangan ganda putri Della Destiara Haris / Ni Made Claudia setelah di final menundukkan pasangan Thailand, Artima Serithamarak / Chayanit Chaladchalam 21-17 21-11. Sebenarnya Indonesia menempatkan pasangan ganda putra dan ganda campuran di babak final. Sayang mereka tidak mampu mengatasi keunggulan pemain-pemain Thailand.
Sementara itu, tim negeri jiran Malaysia menguasai nomor-nomor tunggal. Pemain tunggal putra Malaysia Iskandar Zulkarnain mengalahkan pemain Thailand Pollawat Boonpan 21-19 21-13. Sedangkan pemain putrinya Tee Jing Yee juga menundukkan pemain Thailand, Nitchaon Jindapol 21-16 21-15. Dua pemain putri Indonesia takluk dibabak semi final. Siti Anida ditaklukkan Tee Jing Yee dan Febby Angguni kalah dari Nitchaon Jindapol. Hasil lebih buruk dicatat pemain tunggal putra Indonesia yang diwakili Evert Sukamta dan Fernaldy Markus yang gugur sebelum mencapai babak empat besar.
Prestasi pemain muda ini cukup memprihatinkan, apalagi beberapa pemain yang diturunkan sebelumnya adalah andalan Indonesia pada Kejuaraan Dunia Yunior seperti Febby Angguni dan Muhamad Ulinuha. Sebaliknya pemain muda Malaysia dan Thailand menunjukkan kemajuan yang pesat. Penurunan prestasi Indonesia ini merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi PBSI agar kita tetap menjadi kekuatan bulutangkis dunia.
Hasil Final Kejuaraan Pelajar ASEAN ke -14 :
Ganda Campuran : Bodin Isara / Nuttaya Sanlekanun [THA] - [INA]  Muhammad Ulinuha / Della Destiara Haris 21-17 21-18
Tunggal Putra : Iskandar Zulkarnain Zainuddin [MAS] - [THA]  Pollawat Boonpan 21-19 21-13
Tunggal Putri : Tee Jing Yee [MAS] - [THA]  Nitchaon Jindapol 21-16 21-15
Ganda Putra : Sarayuth Seatung / Sermsin Wongyaprom [THA] - [INA]  Muhammad Ulinuha / Rendy Sugiarto 21-18 9-21 21-17
Ganda Putri : Della Destiara Haris / Ni Made Claudia Ayu Wijaya INA] - [THA]  Artima Serithamarak / Chayanit Chaladchalam 21-17 21-11

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Pede Dengan Rambut Baru

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juli 4, 2008

Seusai pertandingan yang menegangkan menghadapi Hsiao Huan Chen (TPE), Pia Zebadiah didaulat untuk diwawancarai oleh wartawan di ruang konferensi pers. Berikut petikan wawancara dengan bintang babak kualifikasi Indonesia Open Super Series ini:
Wartawan (W) : Pada pertandingan barusan Pia kelihatan bermain sambil dibalut cedera
Pia Zebadiah (P) : Iya, disini pada paha kanan. Awalnya saya sempat berpikir tidak perlu main tetapi akhirnya saya coba sekalian mengukur sampai dimana kekuatan saya
W : Memang cedera sejak kapan
P : Saat Singapore Open minggu lalu saya flu dan sakit pada kaki tangan. Ditambah lagi saat itu ketemu pemain Korea yang bagus dalam menyerang, Ki Moon Hi. Tapi setelah menang, ketemu Wang Cheng. Tentunya saya tidak mau melepaskan pertandingan dengan salah satu pemain favorit saya itu.
W : Bagaimana pendapat Pia mengenai lawan tadi
P : Ini pertama kali ketemu dia. Bola-bola dia dan saya saling menyulitkan sehingga sama-sama terkuras
W : Menghadapi Maria besok gimana (hari ini 18 Juni 200 8)
P : Langsung tanda tangan aja… (Pia bercanda bahwa dia akan mengundurkan diri). Maria pemain bagus dan baru pertama kali bertemu di turnamen resmi. Ah.. cuek aja, gimana besok lihat kondisi.
W : Saat lawan Nana (Fransiska Ratnasari) tadi juga sangat ketat
P : Inilah gak enaknya. Saya, Nana dan Aprilia teman dekat dan sering bareng. Tapi Aprillia dikalahkan Nana kemudian Nana kalah dari saya. Saya jadi tidak enak tinggal sendiri dari kita bertiga. Tadi sama Nana kayak partai nenek-nenek karena sama-sama cedera
W : Target Pia pada turnamen ini sebenarnya
P : Lolos kualifikasi
Seketika Pia balik bertanya kepada wartawan
P : Rambut saya keren gak ? (Pia tampil dengan Potongan rambut baru ala Xie Xingfang)
W : Iya keren
P : Tadi ada suporter yang panggil saya Xixingping (mungkin maksud penonton tersebut mirip Xie Xingfang). Dipanggil Xixingping, saya jadi pede dengan rambut saya
W : Memang kenapa rambutnya dipotong?
P : Saya sudah empat tahun rambut panjang terus. Kayaknya kelihatan terlalu dewasa. Lagian buat apa panjang-panjang gak ada yang belai (canda Pia)
W : Emang mana Mas Tommy? Gak maen bareng Mas Tommy?
P : Wah… untuk yang satu ini No Comment
Selamat ya Pia… Semoga prestasi-mu semakin meningkat

Ditulis dalam Wawancara | Leave a Comment »

Kompetisi Bulutangkis Ramai Piala Eropa 2008

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juni 25, 2008

Bagaikan menentang arus, bulutangkis Eropa menggelar turnamen Europe Cup bersamaan dengan minggu pertama turnamen sepak bola Eropa yang dikenal dengan nama Euro 2008. Dikatakan menentang arus karena di Indonesia saja yang terkenal sebagai negara bulutangkis tetapi fokus perhatian masyarakat dan media tersedot ke Euro 2008. Apalagi di Eropa yang bulutangkis kurang popular kecuali di beberapa negara saja seperti Denmark dan Inggris. Membahas keunikan turnamen bulutangkis Europe Cup tidak hanya pada waktu penyelenggaraan. Pemakaian nama turnamen juga mengundang pertanyaan tersendiri. Europe Cup yang kalau diterjamahkan secara harfiah adalah Piala Eropa seakan menggambarkan bahwa turnamen ini dipenuhi oleh bintang-bintang Eropa. Kenyataannya pemain-pemain kelas atas Eropa lebih memilih menyeberang ke benua Asia untuk mengikuti Singapore Super Series.
Turnamen bulutangkis Piala Eropa ini merupakan pertandingan antar klub Eropa yang diikuti perwakilan dari sembilan negara yaitu Italia, Finlandia, Turki, Spanyol, Swiss, Portugal, Ceko, Islandia, Polandia, Ukraina dan Rusia yang diwakili dua klub. Kesepuluh klub dibagi dalam tiga grup yang kemudian juara dan runner-up maju ke babak perempat final. Dengan demikian terdapat dua klub yang mendapat bye pada babak 8 besar. Selanjutnya menggunakan sistem gugur mulai perempat final tersebut sampai dengan final. Format pertandingan menggunakan format beregu campuran. Tetapi berbeda dengan Piala Sudirman, karena piala Eropa menyajikan tujuh partai dalam satu duel. Tunggal putra dan putri masing-masing menampilkan dua partai sedangkan nomor ganda putra, putri dan campuran hanya satu partai.
Beberapa klub diperkuat oleh pemain asing. Pemain asal Indonesia paling banyak yang tampil pada Piala Eropa ini. Klub EGO Sport Club (Turki) mengontrak tiga pemain Indonesia sekaligus yaitu Rintan Apriliana, Siti Wachyuni dan Hangky Sienaya. Pemain Indonesia lainnya bermain untuk klub CB Soderin Rinconada (ESP) melalui Stenny Kusuma dan Ruben Gordon Khosadalina. Klub Spanyol ini merupakan klub yang paling banyak memainkan pemain asing. Selain pemain Indonesia, mereka memiliki Richard Vaughan (WAL), Filipa Lamy (POR) dan Bing Xin Xu (CHN). Pemain China sendiri masih tampil dengan dua pemain lainnya, Liu Fanhua (CHN) dan Wan Dan (CHN) yang memperkuat klub Prymorye (RUS).
Jika membandingkan dengan Asia sebagai kiblat prestasi bulutangkis dunia, maka Asia tertinggal dalam satu hal. Sampai saat ini belum ada turnamen resmi antar klub Asia. Padahal prestasi pemain-pemain klub Asia jauh lebih baik dari pemain yang tampil di Piala Eropa. Sebagai contoh klub PB Djarum dari Indonesia yang merajai turnamen level Challanger dan satelitte melalui atlet-atletnya seperti Rendra Wijaya, Fran Kurniawan, Andre Kurniawan, Yonathan S, Rian Sukmawan, Meliana Jauhari, Shendy Puspa dan pemain lainnya. Demikian juga dengan negeri Jiran Malaysia dengan klubnya Nusa Mahsuri yang menaungi pemain selevel M. Hafiz Hashim dan Roslin Hashim. Pemain-pemain tersebut benar-benar mewakili klub karena tidak masuk dalam Pelatnas di negaranya. Tentu akan lebih semarak kalau PB. Djarum dan Nusa Mashuri mempelopori turnamen serupa di benua Asia.
Piala Eropa sudah memberikan contoh bagaimana turnamen antar klub bisa diangkat ke arena Internasional. Efektifitas turnamen serupa ini bagi kemajuan bulutangkis memang masih perlu dikaji lagi. Namun kejuaraan antar klub seperti ini mungkin saja bisa menjadi cikal bakal Industri Olahraga Bulutangkis. Seperti halnya cabang sepakbola, transfer pemain antar klub telah berhasil menjadikan Olahraga sebagai obyek Industri. Hal ini tentunya berdampak possitif pada kesejahteraan dan penghasilan atlet. Jalan menuju kesana masih panjang atau mungkin tidak pernah tercapai. Tetapi inisiatif Eropa menggelar turnamen seperti ini layak diberikan acungan jempol apalagi ditengah-tengah masyarkat Eropa bahkan dunia sedang tertuju pada Piala Eropa cabang Sepak Bola

Ditulis dalam Artikel | yang berkaitan: | Leave a Comment »

LEBIH ENAK MENJADI NOMOR SATU DI DJARUM

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juni 24, 2008

Keberhasilan Meliana Jauhari / Shendy Puspa merupakan pencapaian terbaik bagi klub Djarum pada turnamen Indonesia Open Superseries 2008. Meli / Shendy bahkan berhasil membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan kedua dari Jepang, Kumiko Ogura / Reiko Shiota 21-19 14-21 21-14 pada babak 16 besar. Pada perempatfinal, Unggulan kedelapan Kim Min Jun / Ha Jung Eun menjadi korban berikutnya. Pasangan Korea tersebut takluk dari Meli / Shendy 20-22 15-21. Sayangnya langkah besar pasangan ini terhenti oleh unggulan ketiga asal Jepang, Miyuki Maeda / Satoko Suetsuna di Semifinal.
Prestasi cemerlang Meli / Shendy ini tidak terlepas dari usaha klub Djarum untuk menyelamatkan potensi pemain muda yang tersingkir dari Pelatnas. Bersama beberapa pemain lainnya seperti Andre Kurniawan, Rendra Wijaya, Fran Kurniawan, Yonathan Suryatama dan Rian Sukmawan dibiayai oleh klub Djarum untuk mengikuti tur internasional. Pada sebuah wawancara Meli / Shendy berbicara mengenai posisi mereka di klub Djarum. “Dari pada di Pelatnas, lebih enak menjadi nomor satu di klub Djarum. Semua kebutuhan diperhatikan oleh klub”, Ungkap Meliana. Meli / Shendy sempat ditawari kembali ke Pelatnas awal tahun ini tetapi atas pertimbangan klub dan pelatih maka tawaran tersebut belum diterima.
Sebelumnya Meliana Jauhari pernah tergabung di Pelatnas yang kemudian terdegredasi pada tahun 2004. Sedikit berbeda dengan Shendy Puspa yang sempat bolak balik Pelatnas. Awalnya Shendy terpilih menghuni pelatnas sebagai pemain tunggal putri dan kemudian mengundurkan diri 2003. Tahun 2005 Shendy kembali bergabung sebagai pemain ganda sampai tahun 2007. Kesempatan kedua di Pelatnas pun tidak menghasilkan prestasi yang menggembirakan buat Shendy. Shendy mengatakan “Kesempatan saya bertanding sangat kurang saat di Pelatnas”. Keluar dari Pelatnass, Shendy bergabung dengan klub Djarum dan berpasangan dengan Meliana Jauhari yang sudah tidak berpasangan lagi dengan Purwanti.
Sejak berpasangan Shendy / Meliana mulai merebut juara dari Surabaya Challanger dan Jakarta Open 2007, mereka merambah gelar Internasional tahun 2008. Tiga gelar juara dalam tour Eropa 2008 yang mereka direbut adalah juara Polandia terbuka, Spanyol terbuka dan Touluse Terbuka. Uniknya baik Meliana maupun Shendy sama-sama berprestasi dinomor ganda campuran. Meliana Jauhari yang berpasangan dengan Rendra Wijaya mengantongi juara Spanyol Terbuka. Sedangkan Shendy Puspa bersama pasangannya Fran Kurniawan menyabet juara Finlandia terbuka dan toulouse terbuka. Bahkan diajang sekelas superseries Indonesia terbuka ini, Shendy / Fran berhasil melaju kebabak delapan besar sebelum ditaklukkan unggulan kedua Zheng Bo / Gao Ling.
Tergabung di klub Djarum diakui keduanya terdapat kekurangan. Mereka tidak mendapatkan lawan sparring yang sepadan di klubnya. Diceritakan oleh Shendy, “Kami harus sparring ke Pelatnas Cipayung”. Pelatih kadang-kadang menyiasati dengan melakukan sparring pemain ganda putra di klub. Menja di nomor satu diklub bukan berarti pasangan ini lepas dari hukuman. “Prestasi kurang bagus di Malaysia Superseries Januari 2008 membuat kami di hukum”. Meliana mengisahkan mereka tidak diperbolehkan bertanding selama tiga bulan karena capaian di Malaysia tersebut. Selama tiga bulan Meliana dan Shendy digenjot latihan dibawah pelatih Denny Kantono.
Prestasi bagus di Indonesia terbuka membuat pasangan Meliana / Shendy menjadi lebih percaya diri dalam mengarungi karir sebagai pemain klub. Apalagi peringkat mereka akan melonjak naik dari peringkat saat ini di posisi ke-27 dunia. Secara keseluruhan peringkat mereka berada diposisi keempat dari pasangan ganda putri Indonesia. Bahkan peringkat mereka lebih tingggi dari beberapa rekannya yang ada di Pelatnas. Menarik untuk kita tunggu prestasi Meliana Jauhari dan Shendy Puspa berikutnya.

Ditulis dalam Bintang | yang berkaitan: | Leave a Comment »