Planet Badminton

Hidupkan Diri Dengan Prestasi

Arsip untuk Juni, 2008

Kompetisi Bulutangkis Ramai Piala Eropa 2008

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juni 25, 2008

Bagaikan menentang arus, bulutangkis Eropa menggelar turnamen Europe Cup bersamaan dengan minggu pertama turnamen sepak bola Eropa yang dikenal dengan nama Euro 2008. Dikatakan menentang arus karena di Indonesia saja yang terkenal sebagai negara bulutangkis tetapi fokus perhatian masyarakat dan media tersedot ke Euro 2008. Apalagi di Eropa yang bulutangkis kurang popular kecuali di beberapa negara saja seperti Denmark dan Inggris. Membahas keunikan turnamen bulutangkis Europe Cup tidak hanya pada waktu penyelenggaraan. Pemakaian nama turnamen juga mengundang pertanyaan tersendiri. Europe Cup yang kalau diterjamahkan secara harfiah adalah Piala Eropa seakan menggambarkan bahwa turnamen ini dipenuhi oleh bintang-bintang Eropa. Kenyataannya pemain-pemain kelas atas Eropa lebih memilih menyeberang ke benua Asia untuk mengikuti Singapore Super Series.
Turnamen bulutangkis Piala Eropa ini merupakan pertandingan antar klub Eropa yang diikuti perwakilan dari sembilan negara yaitu Italia, Finlandia, Turki, Spanyol, Swiss, Portugal, Ceko, Islandia, Polandia, Ukraina dan Rusia yang diwakili dua klub. Kesepuluh klub dibagi dalam tiga grup yang kemudian juara dan runner-up maju ke babak perempat final. Dengan demikian terdapat dua klub yang mendapat bye pada babak 8 besar. Selanjutnya menggunakan sistem gugur mulai perempat final tersebut sampai dengan final. Format pertandingan menggunakan format beregu campuran. Tetapi berbeda dengan Piala Sudirman, karena piala Eropa menyajikan tujuh partai dalam satu duel. Tunggal putra dan putri masing-masing menampilkan dua partai sedangkan nomor ganda putra, putri dan campuran hanya satu partai.
Beberapa klub diperkuat oleh pemain asing. Pemain asal Indonesia paling banyak yang tampil pada Piala Eropa ini. Klub EGO Sport Club (Turki) mengontrak tiga pemain Indonesia sekaligus yaitu Rintan Apriliana, Siti Wachyuni dan Hangky Sienaya. Pemain Indonesia lainnya bermain untuk klub CB Soderin Rinconada (ESP) melalui Stenny Kusuma dan Ruben Gordon Khosadalina. Klub Spanyol ini merupakan klub yang paling banyak memainkan pemain asing. Selain pemain Indonesia, mereka memiliki Richard Vaughan (WAL), Filipa Lamy (POR) dan Bing Xin Xu (CHN). Pemain China sendiri masih tampil dengan dua pemain lainnya, Liu Fanhua (CHN) dan Wan Dan (CHN) yang memperkuat klub Prymorye (RUS).
Jika membandingkan dengan Asia sebagai kiblat prestasi bulutangkis dunia, maka Asia tertinggal dalam satu hal. Sampai saat ini belum ada turnamen resmi antar klub Asia. Padahal prestasi pemain-pemain klub Asia jauh lebih baik dari pemain yang tampil di Piala Eropa. Sebagai contoh klub PB Djarum dari Indonesia yang merajai turnamen level Challanger dan satelitte melalui atlet-atletnya seperti Rendra Wijaya, Fran Kurniawan, Andre Kurniawan, Yonathan S, Rian Sukmawan, Meliana Jauhari, Shendy Puspa dan pemain lainnya. Demikian juga dengan negeri Jiran Malaysia dengan klubnya Nusa Mahsuri yang menaungi pemain selevel M. Hafiz Hashim dan Roslin Hashim. Pemain-pemain tersebut benar-benar mewakili klub karena tidak masuk dalam Pelatnas di negaranya. Tentu akan lebih semarak kalau PB. Djarum dan Nusa Mashuri mempelopori turnamen serupa di benua Asia.
Piala Eropa sudah memberikan contoh bagaimana turnamen antar klub bisa diangkat ke arena Internasional. Efektifitas turnamen serupa ini bagi kemajuan bulutangkis memang masih perlu dikaji lagi. Namun kejuaraan antar klub seperti ini mungkin saja bisa menjadi cikal bakal Industri Olahraga Bulutangkis. Seperti halnya cabang sepakbola, transfer pemain antar klub telah berhasil menjadikan Olahraga sebagai obyek Industri. Hal ini tentunya berdampak possitif pada kesejahteraan dan penghasilan atlet. Jalan menuju kesana masih panjang atau mungkin tidak pernah tercapai. Tetapi inisiatif Eropa menggelar turnamen seperti ini layak diberikan acungan jempol apalagi ditengah-tengah masyarkat Eropa bahkan dunia sedang tertuju pada Piala Eropa cabang Sepak Bola

Ditulis dalam Artikel | Bertanda: | Leave a Comment »

LEBIH ENAK MENJADI NOMOR SATU DI DJARUM

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juni 24, 2008

Keberhasilan Meliana Jauhari / Shendy Puspa merupakan pencapaian terbaik bagi klub Djarum pada turnamen Indonesia Open Superseries 2008. Meli / Shendy bahkan berhasil membuat kejutan dengan menumbangkan unggulan kedua dari Jepang, Kumiko Ogura / Reiko Shiota 21-19 14-21 21-14 pada babak 16 besar. Pada perempatfinal, Unggulan kedelapan Kim Min Jun / Ha Jung Eun menjadi korban berikutnya. Pasangan Korea tersebut takluk dari Meli / Shendy 20-22 15-21. Sayangnya langkah besar pasangan ini terhenti oleh unggulan ketiga asal Jepang, Miyuki Maeda / Satoko Suetsuna di Semifinal.
Prestasi cemerlang Meli / Shendy ini tidak terlepas dari usaha klub Djarum untuk menyelamatkan potensi pemain muda yang tersingkir dari Pelatnas. Bersama beberapa pemain lainnya seperti Andre Kurniawan, Rendra Wijaya, Fran Kurniawan, Yonathan Suryatama dan Rian Sukmawan dibiayai oleh klub Djarum untuk mengikuti tur internasional. Pada sebuah wawancara Meli / Shendy berbicara mengenai posisi mereka di klub Djarum. “Dari pada di Pelatnas, lebih enak menjadi nomor satu di klub Djarum. Semua kebutuhan diperhatikan oleh klub”, Ungkap Meliana. Meli / Shendy sempat ditawari kembali ke Pelatnas awal tahun ini tetapi atas pertimbangan klub dan pelatih maka tawaran tersebut belum diterima.
Sebelumnya Meliana Jauhari pernah tergabung di Pelatnas yang kemudian terdegredasi pada tahun 2004. Sedikit berbeda dengan Shendy Puspa yang sempat bolak balik Pelatnas. Awalnya Shendy terpilih menghuni pelatnas sebagai pemain tunggal putri dan kemudian mengundurkan diri 2003. Tahun 2005 Shendy kembali bergabung sebagai pemain ganda sampai tahun 2007. Kesempatan kedua di Pelatnas pun tidak menghasilkan prestasi yang menggembirakan buat Shendy. Shendy mengatakan “Kesempatan saya bertanding sangat kurang saat di Pelatnas”. Keluar dari Pelatnass, Shendy bergabung dengan klub Djarum dan berpasangan dengan Meliana Jauhari yang sudah tidak berpasangan lagi dengan Purwanti.
Sejak berpasangan Shendy / Meliana mulai merebut juara dari Surabaya Challanger dan Jakarta Open 2007, mereka merambah gelar Internasional tahun 2008. Tiga gelar juara dalam tour Eropa 2008 yang mereka direbut adalah juara Polandia terbuka, Spanyol terbuka dan Touluse Terbuka. Uniknya baik Meliana maupun Shendy sama-sama berprestasi dinomor ganda campuran. Meliana Jauhari yang berpasangan dengan Rendra Wijaya mengantongi juara Spanyol Terbuka. Sedangkan Shendy Puspa bersama pasangannya Fran Kurniawan menyabet juara Finlandia terbuka dan toulouse terbuka. Bahkan diajang sekelas superseries Indonesia terbuka ini, Shendy / Fran berhasil melaju kebabak delapan besar sebelum ditaklukkan unggulan kedua Zheng Bo / Gao Ling.
Tergabung di klub Djarum diakui keduanya terdapat kekurangan. Mereka tidak mendapatkan lawan sparring yang sepadan di klubnya. Diceritakan oleh Shendy, “Kami harus sparring ke Pelatnas Cipayung”. Pelatih kadang-kadang menyiasati dengan melakukan sparring pemain ganda putra di klub. Menja di nomor satu diklub bukan berarti pasangan ini lepas dari hukuman. “Prestasi kurang bagus di Malaysia Superseries Januari 2008 membuat kami di hukum”. Meliana mengisahkan mereka tidak diperbolehkan bertanding selama tiga bulan karena capaian di Malaysia tersebut. Selama tiga bulan Meliana dan Shendy digenjot latihan dibawah pelatih Denny Kantono.
Prestasi bagus di Indonesia terbuka membuat pasangan Meliana / Shendy menjadi lebih percaya diri dalam mengarungi karir sebagai pemain klub. Apalagi peringkat mereka akan melonjak naik dari peringkat saat ini di posisi ke-27 dunia. Secara keseluruhan peringkat mereka berada diposisi keempat dari pasangan ganda putri Indonesia. Bahkan peringkat mereka lebih tingggi dari beberapa rekannya yang ada di Pelatnas. Menarik untuk kita tunggu prestasi Meliana Jauhari dan Shendy Puspa berikutnya.

Ditulis dalam Bintang | Bertanda: | Leave a Comment »