Planet Badminton

Hidupkan Diri Dengan Prestasi

Arsip untuk September, 2008

Usia Emas Bisa Terlambat

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 10, 2008

Pada sebuah Talk show tentang kebangkitan bulutangkis Indonesia, pelatih Pelatnas Hendrawan mengingatkan publik untuk tidak mudah memvonis seorang atlet dianggap mentok prestasi. Hal ini berkaitan dengan prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar. Hendrawan menyatakan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda.
Kematangan seorang pemain yang lebih dikenal dengan usia emas dalam bulutangkis lazimnya sudah terlihat dari umur 19 sampai 23 tahun. Sebagai contoh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan sudah mampu meraih gelar turnamen sekelas Indonesia Open di umur 21 tahun dilanjutkan dengan juara dunia dua tahun berikutnya dan berlanjut ke emas Olimpiade. Seorang yang sangat berbakat seperti Taufik Hidayat sudah mampu merebut gelar Grand Prix pertama-nya diusia 17 tahun dan menjuarai Indonesia Open 1999 saat menginjak usia 18 tahun. Demikian halnya dengan Susi Susanti yang kelahiran 11 Februari 1971 berhasil meraih gelar dilevel senior pada tahun 1989 dengan menjuarai invitasi Piala Dunia dan Indonesia Open. Bahkan Mia Audina sudah memulai masa emasnya diumur 15 tahun ketika menjadi tulang punggung tim Uber Cup Indonesia.
Kebanyakan pemain besar dunia sudah mulai meraih prestasi tinggi sebelum usia 23 tahun. Fenomena tersebut menjadikan anggapan umum bahwa tidak berprestasi di usia-usia tersebut maka dikatakan pemain tersebut sudah mentok alias tidak mungkin berprestasi lebih tinggi lagi. Bahkan banyak pemain pelatnas harus terbuang atau memilih jalan lain karena mitos tersebut.
Mitos yang tercipta karena pengalaman masa lalu tidak bisa disalahkan. Tetapi tidak bisa menganggap semua pemain tidak berpotensi karena usia-nya tidak muda lagi. Hendrawan semasa menjadi pemain mengalami masa-masa sulit dalam mencetak prestasi Internasional. Hendrawan meraih gelar Grand Prix diatas bintang Empat pertama-nya pada usia 25 tahun saat Thailand Open 1997. Sedangkan gelar juara dunia diraih pada usia 29 tahun. “Kalau kondisi seperti pelatnas sekarang belum bisa berprestasi sebelum umur 25 pasti sudah dikeluarkan”, Ungkap Hendrawan. Pada kesempatan yang sama, Joko Suprianto mengungkapkan hal serupa.  Untungnya saat itu, Joko Suprianto bisa bertahan walaupun prestasinya telat dibandingkan rekan-rekannya seangkatannya seperti Ardi Wiranata, Alan Budi Kusuma dan Hermawan Susanto. Apalagi dibandingkan dengan rekannya yang lebih muda Hariyanto Arbi. Seandainya Joko Supriyanto menyerah saat ketika itu maka kita tidak mungkin mengenalnya sebagai sang juara dunia. Dengan tekad yang kuat pemain-pemain seperti Joko dan Hendrawan bisa berprestasi maksimal walaupun diusia terlambat untuk memulai prestasi.
Kasus lain yang menguatkan bahwa usia bukanlah rintangan untuk menapaki level atas prestasi ditunjukkan oleh pemain putri Denmark Tine Rasmussen. Pemain kelahiran 21 Juli 1979 itu menghancurkan tembok putri-putri China dengan meraih gelar juara Japan Superseries 2007. Sebelumnya nama Tine kurang dikenal karena hanya mampu juara diturnamen-turnamen kecil. Hebatnya kemunculan Tine bukanlah prestasi sesaat. Tahun ini saja, diusia yang menjelang 30 tahun Tine sudah mengumpulkan tiga gelar juara turnamen Superseries termasuk gelar bergengsi All England. Prestasi diusia senja juga ditunjukkan Zhang Ning yang meraih emas Olimpiade bulan lalu. Namun Zhang tidak bisa dikategorikan sebagai pemain terlambat karena diusia muda sudah menunjukkan kehebatannya.
Belajar dari kasus Hendrawan, Joko maupun Tine Rasmussen ternyata ada pemain-pemain tertentu mencapai kematangannya diusia yang tidak muda lagi. Seharusnya ini menjadi pendorong bagi pemain-pemain bulutangkis agar tidak patah semangat meraih prestasi. Pemain seperti Sony (24 tahun) dan Simon (23 tahun) seharusnya terus berusaha untuk mencapai prestasi terbaik. Usia bukan segalanya sebagai penentu prestasi melainkan kerja keras dan tekad kuat seperti yang pernah ditunjukkan Hendrawan dan Tine Rasmussen.

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

GPG Taipei Open : Tuan Rumah Dominasi Babak Kualifikasi

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 10, 2008

Hari pertama Chinese Taepei Open Grand Prix Gold 2008
memainkan pertandingan kualifikasi pada tiga nomor. Pada
nomor tunggal putri, tuan rumah merebut tiga dari empat
tempat kebabak utama melalui Pei Hsin Chiang, Hsiao-Jo Liu
dan Hsiao Huang Chen. Hsiao Huan Chen membuat kejutan
dengan menundukkan unggulan kedua kualifikasi Nicole
Grether (GER) 21-19 21-9. Satu tempat lagi dipastikan buat
pemain Jepang, Masayo Nojirino yang mengalahkan pemain
tuan rumah lainnya Chia Ling Chang 16-21 21-11 21-9

Kebalikan dari nomor tunggal putri maka pada ganda putra
justru Jepang menguasai tiga dari empat tempat ke babak
utama. Mereka adalah pasangan Hiroyuki Saeki / Yuta
Yamasaski, Takeshi Kamura / Takuma Ueda dan Hiroyuki Endo
/ Kazushi Yamada. Sedangkan tuan rumah meloloskan Jen Yo
Cheng / Shih Chung Huang yang menundukkan pasangan
Hongkong Chi Yin Lau / Lok Kei Lo 21-13 21-15 di final
kualifikasi

Satu nomor kualifikasi lagi mempertandingkan ganda
campuran. Kembali tuan rumah meloloskan pasangan terbanyak
setelah dua pasangannya menang di final. Kedua pasangan
tersebut adalah Chung Lin Tseng / Yun Ju Chang dan Tien
Chen Chou / Kai Hsin Chiang. Ikut lolos ke babak utama
pasangan Jepang Takatoshi Kurose / Yasuyo Imabeppu dan
pasangan Malaysia Hee Chun Mak / Kah Mun Vivian Hoo.

Pada pertandingan kemarin tidak satupun pemain Indonesia
yang tampil dibabak kualifikasi. Semua pemain Indonesia
langsung bermain pada babak utama yang dimulai hari ini
(10/09)

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Kebangkitan Bulutangkis

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 2, 2008

(Bulutangkis.com) – Universitas Taruma Negara Jakarta pada jumat pagi tanggal 22 Agustus 2008 menyelenggarakan Talk Show yang berjudul Kebangkitan Bulutangkis Indonesia. Talk show tersebut dihadiri oleh mantan atlet yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), para atlet yunior, mahasiswa, dosen dan wartawan. Acara ini dipandu oleh kandidat Magister Psikologi Universitas Tarumanegara yang sekaligus mantan atlet bulutangkis, Lilik Sudarwati. Pembicara dalam Talk Show ini adalah Christian Hadinata, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Joko Suprianto, Hendrawan, Chandra Wijaya, Alan Budi Kusuma dan Psikolog, Dr. Monti Setya Darma.

Acara dibuka oleh Prof. Singgih Gunarsah yang kemudian dilanjutkan dengan acar inti. Christian Hadinata menyoroti ketergantungan atlet-atlet sekarang kepada pelatih. Menurut Koh Christ, sebaiknya atlet harus juga berlatih memecahkan masalah di lapangan. Apalagi kesempatan bertukar pikiran dengan pelatih dalam satu kesempatan di pertandingan hanya dua menit.

Sejalan dengan Koh Chris, Ivana Lie juga menekankan pentingnya motivasi internal dari dalam diri seorang atlet. Memang motivasi eksternal seperti bonus dapat membantu tetapi bukan menjadi faktor utama kesuksesan seorang atlet. Seorang atlet harus menumbuhkan dalam dirinya bahwa latihan dan pertandingan itu menjadi suatu kesenangan. Kemajuan jaman yang serba mudah ditengarai Ivana Lie sebagai pemicu kurangnya mental baja seorang pemain. Jamannya Ivana Lie, untuk berkomunikasi dengan keluarga lebih sulit tetapi sekarang tinggal angkat mobile phone. Demikian juga dengan transportasi, dulu atlet kemana-mana harus naik bis umum bandingkan dengan sekarang sudah pakai mobil atau bis khusus.

Mengenai prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar, Hendrawan mengingatkan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda. Sebagai contoh Hendrawan maupun Joko Suprianto baru matang diusia 25 tahun. Disini diperlukan kejelian pelatih untuk mengukur kemampuan seorang pemain.

Joko Suprianto dan Rosiana Tendian membahas masalah bibit atlet di Indonesia. Menurut Mbak Rosi yang rajin mengadakan turnamen ini mengatakan membludaknya peserta turnamen usia dini sampai angka ribuan sebagai modal yang bagus. Indonesia tidak kekurangan bibit tetapi ada masalah dengan pembinaan bibit-bibit tersebut. Sedangkan Joko mengkritisi kebijakan pembinaan Pelatnas sekarang. Sistem yang dulu dipakai dimana pemain terbaik Indonesia sudah dibina di Pelatnas sejak usia 15 tahun yang hasilnya Indonesia berlimpah pemain bagus seperti Susi, Ardi dan rekan seangkatannya. Hal lain yang dicermati Joko adalah kesenjangan prestasi Jawa dan luar Jawa. Ketika pada usia dibawah 14 tahun level permainan pemain Jawa dan luar Jawa sebanding. Tetapi setelah itu perbandingan menjadi jauh. Biasanya bagi yang orang tuanya mampu, atlet tersebut dipindah ke Jawa, sedangkan talenta yang kurang mampu akan berhenti sampai pada level tersebut. Solusinya diperlukan
desentralisasi pembinaan.

Alan dan Chandra fokus masalah ke mental atlet. Kelemahan atlet kita umumnya takut pada psikolog. Ada anggapan psiokolog itu buat orang-orang yang bermasalah. Saat jadi pemain, Alan selalu menghindar dari Prof. Singgih. Tetapi dengan kesabaran Prof. Singgih, Alan akhirnya mau terbuka. Problem utama Alan saat itu karena tidak terbiasa mengambil keputusan karena diperintahkan langsung orang tua nya. Setelah sering konsultasi, Alan berhasil mendobrak hal tersebut sehingga lebih matang di lapangan.

Dari sisi psikolog, Dr Monthi menekankan perlunya ketegaran mental dari pemain. Ketegaran mental ini dilakukan dengan suatu proses latihan sejak dini. Pemain tidak hanya dilatih fisik dan teknik tapi juga mental. Tidak cukup ketegaran mental ini dilatih setelah pemain tersebut dewasa. Salah satu bentuknya adalah disiplin

Acara yang menarik ini akhirnya ditutup dengan acara ulang tahun ke 74 Prof. Singgih. Professor kelahiran Banyumas 21 Agustus 1934 itu mempunyai andil yang cukup besar bagi bulutangkis Indonesia khususnya saat Indonesia menyandingkan Piala Thomas dan Uber tahun 1994.

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »