Planet Badminton

Hidupkan Diri Dengan Prestasi

Kebangkitan Bulutangkis

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 2, 2008

(Bulutangkis.com) – Universitas Taruma Negara Jakarta pada jumat pagi tanggal 22 Agustus 2008 menyelenggarakan Talk Show yang berjudul Kebangkitan Bulutangkis Indonesia. Talk show tersebut dihadiri oleh mantan atlet yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), para atlet yunior, mahasiswa, dosen dan wartawan. Acara ini dipandu oleh kandidat Magister Psikologi Universitas Tarumanegara yang sekaligus mantan atlet bulutangkis, Lilik Sudarwati. Pembicara dalam Talk Show ini adalah Christian Hadinata, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Joko Suprianto, Hendrawan, Chandra Wijaya, Alan Budi Kusuma dan Psikolog, Dr. Monti Setya Darma.

Acara dibuka oleh Prof. Singgih Gunarsah yang kemudian dilanjutkan dengan acar inti. Christian Hadinata menyoroti ketergantungan atlet-atlet sekarang kepada pelatih. Menurut Koh Christ, sebaiknya atlet harus juga berlatih memecahkan masalah di lapangan. Apalagi kesempatan bertukar pikiran dengan pelatih dalam satu kesempatan di pertandingan hanya dua menit.

Sejalan dengan Koh Chris, Ivana Lie juga menekankan pentingnya motivasi internal dari dalam diri seorang atlet. Memang motivasi eksternal seperti bonus dapat membantu tetapi bukan menjadi faktor utama kesuksesan seorang atlet. Seorang atlet harus menumbuhkan dalam dirinya bahwa latihan dan pertandingan itu menjadi suatu kesenangan. Kemajuan jaman yang serba mudah ditengarai Ivana Lie sebagai pemicu kurangnya mental baja seorang pemain. Jamannya Ivana Lie, untuk berkomunikasi dengan keluarga lebih sulit tetapi sekarang tinggal angkat mobile phone. Demikian juga dengan transportasi, dulu atlet kemana-mana harus naik bis umum bandingkan dengan sekarang sudah pakai mobil atau bis khusus.

Mengenai prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar, Hendrawan mengingatkan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda. Sebagai contoh Hendrawan maupun Joko Suprianto baru matang diusia 25 tahun. Disini diperlukan kejelian pelatih untuk mengukur kemampuan seorang pemain.

Joko Suprianto dan Rosiana Tendian membahas masalah bibit atlet di Indonesia. Menurut Mbak Rosi yang rajin mengadakan turnamen ini mengatakan membludaknya peserta turnamen usia dini sampai angka ribuan sebagai modal yang bagus. Indonesia tidak kekurangan bibit tetapi ada masalah dengan pembinaan bibit-bibit tersebut. Sedangkan Joko mengkritisi kebijakan pembinaan Pelatnas sekarang. Sistem yang dulu dipakai dimana pemain terbaik Indonesia sudah dibina di Pelatnas sejak usia 15 tahun yang hasilnya Indonesia berlimpah pemain bagus seperti Susi, Ardi dan rekan seangkatannya. Hal lain yang dicermati Joko adalah kesenjangan prestasi Jawa dan luar Jawa. Ketika pada usia dibawah 14 tahun level permainan pemain Jawa dan luar Jawa sebanding. Tetapi setelah itu perbandingan menjadi jauh. Biasanya bagi yang orang tuanya mampu, atlet tersebut dipindah ke Jawa, sedangkan talenta yang kurang mampu akan berhenti sampai pada level tersebut. Solusinya diperlukan
desentralisasi pembinaan.

Alan dan Chandra fokus masalah ke mental atlet. Kelemahan atlet kita umumnya takut pada psikolog. Ada anggapan psiokolog itu buat orang-orang yang bermasalah. Saat jadi pemain, Alan selalu menghindar dari Prof. Singgih. Tetapi dengan kesabaran Prof. Singgih, Alan akhirnya mau terbuka. Problem utama Alan saat itu karena tidak terbiasa mengambil keputusan karena diperintahkan langsung orang tua nya. Setelah sering konsultasi, Alan berhasil mendobrak hal tersebut sehingga lebih matang di lapangan.

Dari sisi psikolog, Dr Monthi menekankan perlunya ketegaran mental dari pemain. Ketegaran mental ini dilakukan dengan suatu proses latihan sejak dini. Pemain tidak hanya dilatih fisik dan teknik tapi juga mental. Tidak cukup ketegaran mental ini dilatih setelah pemain tersebut dewasa. Salah satu bentuknya adalah disiplin

Acara yang menarik ini akhirnya ditutup dengan acara ulang tahun ke 74 Prof. Singgih. Professor kelahiran Banyumas 21 Agustus 1934 itu mempunyai andil yang cukup besar bagi bulutangkis Indonesia khususnya saat Indonesia menyandingkan Piala Thomas dan Uber tahun 1994.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>