Planet Badminton

Hidupkan Diri Dengan Prestasi

Arsip untuk ‘Berita’ Kategori

GPG Taipei Open : Tuan Rumah Dominasi Babak Kualifikasi

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 10, 2008

Hari pertama Chinese Taepei Open Grand Prix Gold 2008
memainkan pertandingan kualifikasi pada tiga nomor. Pada
nomor tunggal putri, tuan rumah merebut tiga dari empat
tempat kebabak utama melalui Pei Hsin Chiang, Hsiao-Jo Liu
dan Hsiao Huang Chen. Hsiao Huan Chen membuat kejutan
dengan menundukkan unggulan kedua kualifikasi Nicole
Grether (GER) 21-19 21-9. Satu tempat lagi dipastikan buat
pemain Jepang, Masayo Nojirino yang mengalahkan pemain
tuan rumah lainnya Chia Ling Chang 16-21 21-11 21-9

Kebalikan dari nomor tunggal putri maka pada ganda putra
justru Jepang menguasai tiga dari empat tempat ke babak
utama. Mereka adalah pasangan Hiroyuki Saeki / Yuta
Yamasaski, Takeshi Kamura / Takuma Ueda dan Hiroyuki Endo
/ Kazushi Yamada. Sedangkan tuan rumah meloloskan Jen Yo
Cheng / Shih Chung Huang yang menundukkan pasangan
Hongkong Chi Yin Lau / Lok Kei Lo 21-13 21-15 di final
kualifikasi

Satu nomor kualifikasi lagi mempertandingkan ganda
campuran. Kembali tuan rumah meloloskan pasangan terbanyak
setelah dua pasangannya menang di final. Kedua pasangan
tersebut adalah Chung Lin Tseng / Yun Ju Chang dan Tien
Chen Chou / Kai Hsin Chiang. Ikut lolos ke babak utama
pasangan Jepang Takatoshi Kurose / Yasuyo Imabeppu dan
pasangan Malaysia Hee Chun Mak / Kah Mun Vivian Hoo.

Pada pertandingan kemarin tidak satupun pemain Indonesia
yang tampil dibabak kualifikasi. Semua pemain Indonesia
langsung bermain pada babak utama yang dimulai hari ini
(10/09)

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Kebangkitan Bulutangkis

Ditulis oleh planetbadminton di/pada September 2, 2008

(Bulutangkis.com) – Universitas Taruma Negara Jakarta pada jumat pagi tanggal 22 Agustus 2008 menyelenggarakan Talk Show yang berjudul Kebangkitan Bulutangkis Indonesia. Talk show tersebut dihadiri oleh mantan atlet yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), para atlet yunior, mahasiswa, dosen dan wartawan. Acara ini dipandu oleh kandidat Magister Psikologi Universitas Tarumanegara yang sekaligus mantan atlet bulutangkis, Lilik Sudarwati. Pembicara dalam Talk Show ini adalah Christian Hadinata, Ivana Lie, Rosiana Tendean, Joko Suprianto, Hendrawan, Chandra Wijaya, Alan Budi Kusuma dan Psikolog, Dr. Monti Setya Darma.

Acara dibuka oleh Prof. Singgih Gunarsah yang kemudian dilanjutkan dengan acar inti. Christian Hadinata menyoroti ketergantungan atlet-atlet sekarang kepada pelatih. Menurut Koh Christ, sebaiknya atlet harus juga berlatih memecahkan masalah di lapangan. Apalagi kesempatan bertukar pikiran dengan pelatih dalam satu kesempatan di pertandingan hanya dua menit.

Sejalan dengan Koh Chris, Ivana Lie juga menekankan pentingnya motivasi internal dari dalam diri seorang atlet. Memang motivasi eksternal seperti bonus dapat membantu tetapi bukan menjadi faktor utama kesuksesan seorang atlet. Seorang atlet harus menumbuhkan dalam dirinya bahwa latihan dan pertandingan itu menjadi suatu kesenangan. Kemajuan jaman yang serba mudah ditengarai Ivana Lie sebagai pemicu kurangnya mental baja seorang pemain. Jamannya Ivana Lie, untuk berkomunikasi dengan keluarga lebih sulit tetapi sekarang tinggal angkat mobile phone. Demikian juga dengan transportasi, dulu atlet kemana-mana harus naik bis umum bandingkan dengan sekarang sudah pakai mobil atau bis khusus.

Mengenai prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar, Hendrawan mengingatkan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda. Sebagai contoh Hendrawan maupun Joko Suprianto baru matang diusia 25 tahun. Disini diperlukan kejelian pelatih untuk mengukur kemampuan seorang pemain.

Joko Suprianto dan Rosiana Tendian membahas masalah bibit atlet di Indonesia. Menurut Mbak Rosi yang rajin mengadakan turnamen ini mengatakan membludaknya peserta turnamen usia dini sampai angka ribuan sebagai modal yang bagus. Indonesia tidak kekurangan bibit tetapi ada masalah dengan pembinaan bibit-bibit tersebut. Sedangkan Joko mengkritisi kebijakan pembinaan Pelatnas sekarang. Sistem yang dulu dipakai dimana pemain terbaik Indonesia sudah dibina di Pelatnas sejak usia 15 tahun yang hasilnya Indonesia berlimpah pemain bagus seperti Susi, Ardi dan rekan seangkatannya. Hal lain yang dicermati Joko adalah kesenjangan prestasi Jawa dan luar Jawa. Ketika pada usia dibawah 14 tahun level permainan pemain Jawa dan luar Jawa sebanding. Tetapi setelah itu perbandingan menjadi jauh. Biasanya bagi yang orang tuanya mampu, atlet tersebut dipindah ke Jawa, sedangkan talenta yang kurang mampu akan berhenti sampai pada level tersebut. Solusinya diperlukan
desentralisasi pembinaan.

Alan dan Chandra fokus masalah ke mental atlet. Kelemahan atlet kita umumnya takut pada psikolog. Ada anggapan psiokolog itu buat orang-orang yang bermasalah. Saat jadi pemain, Alan selalu menghindar dari Prof. Singgih. Tetapi dengan kesabaran Prof. Singgih, Alan akhirnya mau terbuka. Problem utama Alan saat itu karena tidak terbiasa mengambil keputusan karena diperintahkan langsung orang tua nya. Setelah sering konsultasi, Alan berhasil mendobrak hal tersebut sehingga lebih matang di lapangan.

Dari sisi psikolog, Dr Monthi menekankan perlunya ketegaran mental dari pemain. Ketegaran mental ini dilakukan dengan suatu proses latihan sejak dini. Pemain tidak hanya dilatih fisik dan teknik tapi juga mental. Tidak cukup ketegaran mental ini dilatih setelah pemain tersebut dewasa. Salah satu bentuknya adalah disiplin

Acara yang menarik ini akhirnya ditutup dengan acara ulang tahun ke 74 Prof. Singgih. Professor kelahiran Banyumas 21 Agustus 1934 itu mempunyai andil yang cukup besar bagi bulutangkis Indonesia khususnya saat Indonesia menyandingkan Piala Thomas dan Uber tahun 1994.

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »

Indonesia Hanya Kebagian Satu Gelar

Ditulis oleh planetbadminton di/pada Juli 4, 2008

Indonesia hanya kebagian satu gelar juara pada kejuaraan bulutangkis Pelajar Asean yang berlangsung di Manila Philipina 26-28 Juni 2008. Satu-satunya gelar juara tersebut dipersembahkan pasangan ganda putri Della Destiara Haris / Ni Made Claudia setelah di final menundukkan pasangan Thailand, Artima Serithamarak / Chayanit Chaladchalam 21-17 21-11. Sebenarnya Indonesia menempatkan pasangan ganda putra dan ganda campuran di babak final. Sayang mereka tidak mampu mengatasi keunggulan pemain-pemain Thailand.
Sementara itu, tim negeri jiran Malaysia menguasai nomor-nomor tunggal. Pemain tunggal putra Malaysia Iskandar Zulkarnain mengalahkan pemain Thailand Pollawat Boonpan 21-19 21-13. Sedangkan pemain putrinya Tee Jing Yee juga menundukkan pemain Thailand, Nitchaon Jindapol 21-16 21-15. Dua pemain putri Indonesia takluk dibabak semi final. Siti Anida ditaklukkan Tee Jing Yee dan Febby Angguni kalah dari Nitchaon Jindapol. Hasil lebih buruk dicatat pemain tunggal putra Indonesia yang diwakili Evert Sukamta dan Fernaldy Markus yang gugur sebelum mencapai babak empat besar.
Prestasi pemain muda ini cukup memprihatinkan, apalagi beberapa pemain yang diturunkan sebelumnya adalah andalan Indonesia pada Kejuaraan Dunia Yunior seperti Febby Angguni dan Muhamad Ulinuha. Sebaliknya pemain muda Malaysia dan Thailand menunjukkan kemajuan yang pesat. Penurunan prestasi Indonesia ini merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi PBSI agar kita tetap menjadi kekuatan bulutangkis dunia.
Hasil Final Kejuaraan Pelajar ASEAN ke -14 :
Ganda Campuran : Bodin Isara / Nuttaya Sanlekanun [THA] - [INA]  Muhammad Ulinuha / Della Destiara Haris 21-17 21-18
Tunggal Putra : Iskandar Zulkarnain Zainuddin [MAS] - [THA]  Pollawat Boonpan 21-19 21-13
Tunggal Putri : Tee Jing Yee [MAS] - [THA]  Nitchaon Jindapol 21-16 21-15
Ganda Putra : Sarayuth Seatung / Sermsin Wongyaprom [THA] - [INA]  Muhammad Ulinuha / Rendy Sugiarto 21-18 9-21 21-17
Ganda Putri : Della Destiara Haris / Ni Made Claudia Ayu Wijaya INA] - [THA]  Artima Serithamarak / Chayanit Chaladchalam 21-17 21-11

Ditulis dalam Berita | Leave a Comment »